Opini

Bukan Sekadar Angka 6, Ini Gairah Baru Pembangunan dari Pinggiran

Prestasi Desa Uwedikan tidak lahir begitu saja. Di baliknya ada peran penting seorang pemimpin desa yang tidak menyerah oleh keterbatasan. Kepala Desa Uwedikan, Asir Labani, patut mendapat apresiasi khusus. Di tengah dinamika politik dan sosial, ia tetap menakhodai desanya dengan tekun, merangkul warganya, dan memastikan setiap elemen masyarakat ikut ambil bagian dalam proses persiapan lomba. Bukan hal mudah memobilisasi energi kolektif di desa, tapi Asir membuktikan bahwa dengan niat tulus dan kepemimpinan yang terbuka, segalanya mungkin.

Fenomena ini relevan dengan gagasan building from the margins—membangun dari pinggiran—sebuah pendekatan yang menempatkan desa bukan sebagai objek pembangunan, tetapi sebagai subjek yang memiliki daya cipta dan daya gerak. Dalam kacamata sosiologi pembangunan, gairah ini bisa disebut sebagai bentuk empowerment struktural: desa yang diberi ruang untuk menunjukkan kapasitasnya akan lebih mudah berkembang ketimbang desa yang hanya bergantung pada instruksi pusat.

Namun demikian, perlu digarisbawahi bahwa keberhasilan lomba tidak boleh berakhir pada seremoni dan piagam penghargaan. Spirit yang dihidupkan lomba desa harus dijaga agar tidak padam setelah dewan juri pulang. Karena sesungguhnya, pembangunan desa sejati adalah maraton, bukan sprint.

Bagikan: